Mengenal Bunthora Situmorang, Maestro Musik Batak dan Kisah Panjang Trio Lasidos

Danau Toba Center, Nama Dr. (H.C.) Bunthora Situmorang tidak dapat dipisahkan dari perjalanan panjang musik Batak. Lahir pada tahun 1941 di Sosorpahu, Kecamatan Sipahutar, Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara, Bunthora dikenal sebagai penyanyi, pencipta lagu, sekaligus salah satu tokoh penting dalam perkembangan musik Batak modern.

Tanggal dan bulan kelahirannya tidak banyak dipublikasikan secara rinci di media. Namun, sejumlah catatan mengenai perjalanan hidup dan perayaan ulang tahunnya menyebutkan bahwa Bunthora lahir pada 1941. Pada 2023 ia merayakan ulang tahun ke-82, sedangkan pada 2025 memasuki usia ke-84.       

Bunthora semakin dikenal luas melalui Trio Lasidos, grup vokal Batak yang pernah menjadi salah satu kelompok populer pada masanya. Trio tersebut dikenal dengan personel, antara lain Bunthora Situmorang, Jack Marpaung, serta Jhonny Manurung/Hilman Padang dalam perjalanan formasinya.
Selain sebagai penyanyi, Bunthora dan Jack Marpaung dikenal produktif menciptakan lagu-lagu Batak. Karya mereka tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga merekam kisah kehidupan, cinta, keluarga, perasaan, hingga dinamika sosial masyarakat Batak.

Perjalanan dan Rekonsiliasi Trio Lasidos


Dalam perjalanan Trio Lasidos, pernah terjadi masa ketika grup tersebut tidak lagi aktif memproduksi lagu secara bersama-sama. Berbagai cerita mengenai hubungan antaranggota kemudian berkembang di kalangan penikmat musik Batak.

Salah satu kisah yang beredar menyebutkan adanya persoalan hubungan dan perbedaan pandangan antara Bunthora Situmorang dan Jack Marpaung. Bahkan, kondisi tersebut disebut menjadi salah satu faktor yang membuat aktivitas Trio Lasidos mengalami kevakuman.

Namun, perjalanan waktu membawa perubahan. Sejumlah pihak kemudian berupaya mempertemukan kembali para tokoh tersebut. Nama D.L. Sitorus disebut dalam berbagai cerita sebagai sosok yang ikut memfasilitasi rekonsiliasi sehingga hubungan di antara mereka dapat kembali membaik dan membuka peluang untuk bersatu dalam semangat Trio Lasidos.

Kisah tersebut menjadi bagian menarik dari sejarah musik Batak, terutama karena persahabatan, kreativitas dan dinamika dalam sebuah grup musik sering kali berjalan beriringan.

Karya lain yang sering dikaitkan dengan perjalanan Bunthora adalah “Dang Lepelmu Au Ito”. Lagu tersebut sebelumnya dikenal melalui Simanjuntak Stars, kemudian dibawakan kembali oleh Bunthora bersama grup 3 Bintang yang antara lain melibatkan Joel Simorangkir dan Charles Simbolon.

Lirik lagu tersebut berbicara mengenai seseorang yang merasa tidak sepadan dengan orang yang dicintainya karena kondisi ekonomi.

"Alani hapogoson hu do, asa so hutariashon holong hi tu ho, husadari diri hi, hurimangi lakka hi... Dang lepelmu au ito."

Secara umum, ungkapan tersebut dapat dimaknai sebagai rasa rendah diri seseorang karena kemiskinan dan ketidakmampuannya menyampaikan cinta.

Namun, dalam cerita yang berkembang, terdapat pula tafsir lain terhadap frasa “Dang lepelmu au”. Bunthora disebut pernah memberikan penjelasan dengan sudut pandang berbeda mengenai makna ungkapan tersebut. Dalam konteks itu, frasa tersebut dapat dimaknai sebagai “engkau bukan levelku”, bukan semata-mata “aku bukan levelmu”.

Perbedaan tafsir terhadap lirik inilah yang membuat lagu-lagu Batak klasik menarik untuk dikaji. Sebuah lagu dapat memiliki makna literal, tetapi juga dapat dibaca sebagai ungkapan pengalaman pribadi penciptanya.

Warisan Musik Batak

Bunthora Situmorang tetap merupakan salah satu nama penting dalam sejarah musik Batak. Karya-karyanya bersama sejumlah musisi dan penyanyi Batak telah menjadi bagian dari perjalanan musik Batak lintas generasi.

Kisah Trio Lasidos menunjukkan bahwa perjalanan sebuah kelompok musik tidak selalu berjalan mulus. Ada masa kejayaan, perbedaan, kevakuman, hingga upaya rekonsiliasi. Namun, karya-karya yang telah lahir tetap hidup di tengah masyarakat.

Bagi generasi muda, perjalanan Bunthora Situmorang dan Trio Lasidos bukan sekadar nostalgia. Ia merupakan bagian dari sejarah musik Batak yang memperlihatkan bagaimana lagu dapat menjadi media untuk menyampaikan cinta, kesedihan, kritik, pengalaman hidup, bahkan perasaan yang sulit diucapkan secara langsung.

Karena itu, karya-karya Bunthora Situmorang dan Trio Lasidos layak terus dikenang, didokumentasikan dan diperkenalkan kepada generasi berikutnya sebagai bagian dari warisan seni dan budaya Batak.

Lagu Populer Bunthora Situmorang


Beberapa lagu yang dikenal dan kerap dikaitkan dengan perjalanan musik Bunthora Situmorang antara lain:

1. Tangis Hu Tudainang
Lagu bernuansa andung yang menghadirkan suasana emosional. Tema kerinduan dan kesedihan membuat lagu ini memiliki tempat tersendiri bagi pencinta musik Batak.

2. SMS-Mu Naparpudi

Salah satu lagu yang dikenal luas dalam perjalanan karier Bunthora. Judulnya menggambarkan komunikasi dan kisah perasaan yang dekat dengan kehidupan masyarakat.

3. Damang Dainang
Lagu yang mengangkat penghormatan serta kasih sayang kepada orang tua. Tema tersebut menjadi salah satu ciri kuat dalam banyak karya musik Batak.

4. Rap Ma Hita
Lagu bertema romantis yang dikenal sebagai salah satu karya yang sering dinikmati secara berpasangan.

5. Napuran Sakkababa

Karya yang memiliki nuansa budaya Batak dan memperlihatkan kuatnya unsur tradisi dalam musik yang dibawakan Bunthora.

6. Supir Tembak
Lagu yang mengangkat kehidupan dan realitas seorang sopir. Tema kehidupan sehari-hari menjadi daya tarik tersendiri dari karya tersebut.

Selain lagu-lagu tersebut, sejumlah judul lain yang juga dikenal di kalangan pencinta musik Batak antara lain Marsada Uhur, Melda, Sihutur Sanggul, dan Di Na Lao Au Marjalang.

Album dan Rilisan Bunthora Situmorang

Perjalanan panjang Bunthora Situmorang di industri musik Batak juga menghasilkan sejumlah album dan rilisan yang hingga kini masih dicari para penggemarnya.

Beberapa judul album atau rilisan yang dikaitkan dengan karya Bunthora Situmorang antara lain Tangis Hu Tudainang, Unang Attoi, Siraja Andung, Tano Sanggolom, Nirippu Do Parhunikan, dan Anak Tading Tadingan. (berbagai sumber/red)



Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.