St. Harangan Wilmar Hutahaean, Tokoh Batak di Balik Gurita Bisnis Labersa
Danau Toba Center, St. Harangan Wilmar Hutahaean merupakan salah satu pengusaha asal Tano Batak yang dikenal melalui pengembangan Hutahaean Group dan jaringan bisnis Labersa. Lahir di Laguboti, Tapanuli Utara, 24 Mei 1935, Harangan mengawali perjalanan hidupnya dari dunia pendidikan sebelum terjun ke dunia usaha.
BACA JUGA Mengenal Bunthora Situmorang, Maestro Musik Batak dan Kisah Panjang Trio Lasidos
Ia tercatat pernah menjadi guru SD di Sungai Pakning, Bengkalis, pada 1955–1956, kemudian bekerja di PT Caltex Pacific Indonesia (CPI) Duri pada 1956–1957. Sejak 1959, Harangan mulai menekuni dunia bisnis dan secara bertahap membangun usaha di berbagai sektor.Nama Labersa disebut berasal dari singkatan “Lapan Bersaudara” atau delapan bersaudara. Nama tersebut kemudian berkembang menjadi identitas berbagai usaha yang dibangun keluarga Hutahaean.
Bisnis Harangan berkembang dari sektor kontraktor, perdagangan dan transportasi hingga perkebunan kelapa sawit, pengolahan hasil perkebunan, properti, perhotelan, golf resort, waterpark dan theme park. Sebagian besar aktivitas perkebunannya berkembang di Riau dan wilayah Sumatera.
Melalui perusahaan yang berada di bawah naungan Hutahaean Group, Harangan mengembangkan konsep agribisnis terintegrasi yang mencakup perkebunan dan pengolahan kelapa sawit. Diversifikasi usaha kemudian dilakukan ke sektor pariwisata dan properti.
Salah satu pengembangan yang dikenal luas adalah kawasan Labersa, termasuk hotel, lapangan golf serta fasilitas rekreasi. Di kawasan Danau Toba, nama Labersa juga dikenal melalui Hotel Labersa Toba dan fasilitas rekreasi di Balige, Kabupaten Toba dan kabupaten Samosir.
Perjalanan bisnis Harangan juga tidak hanya berorientasi pada investasi. Sejumlah kegiatan sosial di bidang pendidikan turut dikaitkan dengan kiprah usahanya, antara lain dukungan beasiswa, bantuan bagi guru, pembangunan sekolah serta pengadaan sarana pendidikan.
Dalam perjalanan organisasinya, Harangan juga pernah menjadi bagian dari Majelis Pusat HKBP periode 1998–2004. Kehidupan keluarganya bersama Tio Monica boru Sibarani dikaruniai tiga putra, lima putri dan sejumlah cucu.
Dari seorang guru dan pekerja perusahaan minyak, Harangan Wilmar Hutahaean kemudian membangun usaha yang berkembang lintas sektor. Kisahnya menjadi bagian dari perjalanan pengusaha Batak yang membangun bisnis dari Sumatera dan kemudian berkembang ke sektor perkebunan, properti hingga pariwisata. (red/tam/berbagai sumber)






Tidak ada komentar