Pdt. (Em.) Dr. J.A.U. Doloksaribu : Dipenjara Memperjuangkan HKBP dan Pencipta Serta Ahli Musik Gereja

Danau Toba Center, Nama Pdt. (Em.) Dr. J.A.U. Doloksaribu tidak dapat dipisahkan dari perjalanan sejarah pelayanan Gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP), khususnya pada masa pergolakan kepemimpinan gereja pada dekade 1990-an. Selain dikenal sebagai pendeta senior dan tokoh yang berani menyuarakan independensi gereja, ia juga dikenal sebagai pencipta, penerjemah, serta pembina musik gerejawi yang telah memberikan kontribusi bagi perkembangan pelayanan HKBP.

BACA JUGA
Mengenal Bunthora Situmorang, Maestro Musik Batak dan Kisah Panjang Trio Lasidos

Pdt. J.A.U. Doloksaribu memiliki nama lengkap Jonggi August Uluan Doloksaribu. Ia lahir di Porsea, Toba, pada 18 Maret 1949. Ia merupakan putra Melanchton Doloksaribu dan Heleria boru Sirait. Sejak kecil, kehidupan JAU Doloksaribu sudah sangat dekat dengan kehidupan gereja.

Dalam sebuah kisah perjalanan hidupnya, JAU Doloksaribu mengenang bagaimana ibunya sejak ia masih berada dalam kandungan telah mendoakan agar dirinya kelak menjadi pendeta. Bahkan ketika masih berusia sekitar dua tahun, ia disebut kerap menirukan gaya seorang pendeta ketika bermain bersama anak-anak lainnya.

Latar belakang keluarga juga turut membentuk kecintaannya terhadap pelayanan gereja. Ayahnya, Melanchton Doloksaribu, pernah menjadi tentara Marsuse sebelum kemudian mengabdikan diri sebagai guru zending. Sementara ibunya, Heleria boru Sirait, dikenal aktif dalam kegiatan gereja, termasuk paduan suara dan pembinaan musik jemaat.
Menempuh Pendidikan Teologi

Setelah menyelesaikan pendidikan menengah, JAU Doloksaribu memilih mengikuti panggilan yang telah menjadi cita-citanya sejak kecil. Pada 1968, ia menempuh pendidikan teologi di Fakultas Theologia Universitas HKBP Nommensen Pematangsiantar.

Setelah menyelesaikan pendidikan tersebut, perjalanan pelayanannya dimulai sebagai vikaris atau calon pendeta praktik di HKBP Binjai, Medan. Ia kemudian melanjutkan pelayanan di sejumlah jemaat hingga akhirnya dipercaya mengemban berbagai tugas penting di lingkungan HKBP.

Pada 1990, JAU Doloksaribu melanjutkan pendidikan pascasarjana dan meraih gelar Master of Ministry (M.Min.) dari Trinity Theological College, Singapura.

Pendidikan tersebut semakin memperkuat kapasitasnya dalam bidang teologi, pelayanan pastoral, liturgi dan musik gerejawi.
Perjalanan Panjang Pelayanan di HKBP

Sepanjang perjalanan pelayanannya, JAU Doloksaribu pernah menjalankan berbagai tugas di lingkungan HKBP. Ia pernah menjadi pendeta pembantu di HKBP Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, kemudian Pendeta Persiapan Ressort HKBP Kebayoran Selatan.

Ia selanjutnya dipercaya sebagai Direktur Departemen Pemuda HKBP Pusat selama dua periode. Pada masa pelayanan tersebut, ia berada dalam periode kepemimpinan Ephorus Pdt. G.H.M. Siahaan dan Ephorus Pdt. Dr. S.A.E. Nababan, LLD.

Setelah menyelesaikan pendidikan di Singapura, ia kembali ke Indonesia dan mendapat penempatan sebagai pendeta uluan yang melayani Ressort HKBP di Kota Medan.

Perjalanan pelayanan berikutnya membawanya dipercaya menjadi Praeses HKBP Medan-Aceh pada 1993-1998. Setelah itu, ia melayani sebagai Praeses HKBP Distrik Tebing Tinggi Deli dan Distrik Tapanuli Selatan pada 1998-2004.

Kemudian, pada 2004-2008, ia dipercaya menjadi Praeses HKBP Distrik XXI Jakarta 3. Setelah menjalani berbagai tugas struktural tersebut, ia tetap aktif dalam pelayanan jemaat, termasuk memimpin pelayanan di HKBP Maranatha Rawalumbu, Bekasi.
Berada di Tengah Krisis HKBP 1992-1993

Salah satu bagian paling penting dalam perjalanan Pdt. J.A.U. Doloksaribu adalah keterlibatannya dalam dinamika HKBP pada awal dekade 1990-an.

Ketika HKBP mengalami krisis dualisme kepemimpinan pada 1992-1993, JAU Doloksaribu tercatat menjadi salah seorang pendeta yang secara terbuka menyuarakan penolakan terhadap intervensi pemerintah dan militer dalam urusan internal gereja.

Saat itu, ia bersama sejumlah tokoh dan jemaat terlibat dalam gerakan yang memperjuangkan kemandirian HKBP. Ia bahkan ikut memobilisasi aksi protes jemaat terhadap keputusan yang dinilai mencampuri proses kepemimpinan gereja.

Sikap tersebut kemudian membawa konsekuensi hukum. Pada Januari 1993, setelah memimpin pelayanan pemberkatan pernikahan di Medan, ia sempat ditahan aparat. Peristiwa tersebut menjadi salah satu bagian paling berat dalam perjalanan pelayanannya.

Ia kemudian menjalani proses hukum dan dijatuhi hukuman penjara selama satu setengah tahun. Meski demikian, pengalaman tersebut tidak membuatnya meninggalkan panggilan pelayanan.

Dalam kisah yang pernah disampaikannya, JAU Doloksaribu melihat berbagai tekanan dan tantangan tersebut sebagai bagian dari konsekuensi ketika seorang pelayan gereja mempertahankan keyakinan dan prinsip yang diyakininya.
Tetap Melayani Meski Pernah Dipenjara

Setelah menjalani masa hukuman dan kembali ke tengah jemaat, JAU Doloksaribu melanjutkan pelayanan. Ia kemudian dipercaya mengemban tugas sebagai Praeses dan berbagai tanggung jawab struktural lainnya di HKBP.

Pengalaman tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan hidupnya sebagai pendeta. Ia tidak hanya menjalani pelayanan dalam situasi normal, tetapi juga berada di tengah pergolakan sosial dan dinamika kehidupan gereja yang penuh tantangan.

Salah satu pengalaman lain terjadi pada 2007 ketika ia memberikan penguatan kepada jemaat HKBP Rajeg, Kotabumi, Tangerang, Banten, yang ketika itu menghadapi persoalan dalam menjalankan ibadah.

Dalam peristiwa tersebut, terjadi aksi pelemparan batu yang mengakibatkan sejumlah orang mengalami luka. JAU Doloksaribu juga terkena lemparan batu hingga mengalami luka pada bagian wajah.

Namun, pengalaman tersebut tidak menyurutkan semangatnya untuk tetap menjalankan tugas pelayanan dan memberikan penguatan kepada jemaat.
Berkarya Lewat Musik Gereja

Selain dikenal sebagai pendeta dan tokoh dalam perjalanan sejarah HKBP, JAU Doloksaribu juga memiliki perhatian besar terhadap musik gerejawi.

Ia dikenal aktif menciptakan dan menerjemahkan lagu-lagu gereja ke dalam bahasa Batak Toba. Namanya juga dikaitkan dengan banyak karya lagu yang kemudian digunakan dalam kehidupan peribadahan HKBP dan tercantum dalam Buku Ende HKBP.

Kemampuannya di bidang musik tidak hanya diwujudkan melalui penciptaan lagu. Ia juga memberikan pelatihan dan pembinaan kepada organis, pianis serta kelompok musik gereja.

Sejumlah gereja pernah mengundangnya untuk memberikan pembinaan musik, termasuk dalam pengembangan kemampuan para pemain musik dan pelayan liturgi. Pengetahuannya mengenai liturgi, teologi dan musik gereja membuatnya memiliki peran penting dalam pengembangan kualitas musik dalam ibadah.

Ia juga disebut pernah meraih prestasi dalam lomba cipta lagu gereja tingkat dunia yang diselenggarakan United in Mission (UIEM). Selain itu, kontribusinya dalam mengalihbahasakan lagu-lagu gereja ke bahasa Batak Toba menjadi salah satu bagian dari warisan pelayanannya.

JAU Doloksaribu juga dikenal sebagai pencipta Musik Box Gereja (MBG), sebuah karya yang menunjukkan perhatian dan kreativitasnya dalam mendukung kebutuhan musik gerejawi.
Keluarga dan Kehidupan Pribadi

Dalam kehidupan keluarga, JAU Doloksaribu menikah dengan Romauli boru Hutajulu pada 4 Juli 1974.

Dari pernikahan tersebut, mereka dikaruniai empat orang anak, terdiri dari tiga laki-laki dan satu perempuan, yakni Poltak Hasahatan Doloksaribu, Samuel Doloksaribu, Simon Joroan Doloksaribu, dan Debora Kristina boru Doloksaribu.

Salah seorang putranya, Simon Joroan Doloksaribu, telah meninggal dunia pada 3 November 2007 dalam usia 29 tahun, hanya beberapa minggu sebelum rencana pernikahannya.

Kisah keluarga tersebut menjadi bagian dari perjalanan panjang JAU Doloksaribu yang tidak hanya diwarnai pengalaman pelayanan, tetapi juga berbagai suka dan duka dalam kehidupan pribadi.
Memasuki Masa Emeritus

Gelar Pdt. (Em.) yang kini melekat pada namanya merupakan singkatan dari Emeritus, yang menandakan bahwa seorang pendeta telah memasuki masa purnabakti dari tugas struktural penuh waktu.

Namun, status emeritus tidak berarti berakhirnya pengabdian. Pdt. J.A.U. Doloksaribu tetap dikenal sebagai pendeta senior yang memiliki pengalaman panjang dalam pelayanan HKBP.

Pengalaman pastoral, pemahaman teologi, pengetahuan liturgi serta kepeduliannya terhadap musik gereja membuatnya masih memiliki ruang besar untuk memberikan pembinaan dan bimbingan kepada jemaat maupun generasi pelayan gereja.

Jejak pelayanan JAU Doloksaribu menunjukkan bahwa perjalanan seorang pendeta tidak hanya diukur dari jabatan yang pernah diemban, tetapi juga dari keberanian mempertahankan prinsip, kesetiaan mendampingi jemaat dan karya yang diwariskan kepada generasi berikutnya.

Dari seorang anak yang sejak kecil disebut telah memiliki kerinduan menjadi pendeta, JAU Doloksaribu kemudian menjalani puluhan tahun perjalanan sebagai pelayan gereja. Ia melewati masa-masa penuh tantangan, menjalani pendidikan teologi hingga tingkat pascasarjana, dipercaya menduduki berbagai posisi pelayanan, serta menghasilkan karya dalam bidang musik gerejawi.

Kini, memasuki masa emeritus, perjalanan tersebut menjadi bagian dari sejarah panjang pelayanan HKBP sekaligus warisan bagi generasi muda gereja. (red/tam/wiki/berabagaisumber)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.